Rabu, 15 Januari 2014

(Travelling) : Jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Penang, Bangkok & Hatyai


Menjalani sesuatu dan mengenang sesuatu bisa menjadi dua hal yang sangat berbeda. Contohnya, pada pergantian tahun 2013-2014 saya melakukan perjalanan. Beberapa bulan sebelumnya, saya sangat bersemangat membayangkan perjalanan ini. Namun, beberapa minggu sebelum berangkat rasanya biasa saja dan bahkan ada sedikit rasa enggan untuk memulai perjalanan. Hari H pun rasanya tidak istimewa. Saya membayangkan kamar tempat tidur saya yang nyaman, film-film yang bisa saya tonton di laptop, dan beragam hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan saat travelling. Saat perjalanan dilakukan pun, detak jantung saya tidak bergerak lebih cepat daripada biasanya. Keseruan saat melihat tempat-tempat baru memang saya rasakan, rasa terharu saat bertemu orang yang dengan tulus ingin berteman dan menolong di saat-saat genting juga membuat saya senang. Namun mengenangnya justru lebih terasa menyenangkan dibanding saat menjalaninya. 

Saya baru saja mengerti mengapa perjalanan dapat membuat orang kecanduan. Ini bukan tentang objek wisata, melainkan takdir. Takdir yang dalam kehidupan sehari-hari hanya tersirat, namun dalam perjalanan kita bisa melihatnya secara langsung. Saat kita sudah merencanakan detil perjalanan sebaik mungkin, dan tiba-tiba tiket kereta ke tempat salah satu tujuan habis dan terpaksa harus membelokkan perencanaan, pada awalnya terasa seperti musibah. Tanpa disadari ternyata tempat yang merupakan cadangan tersebut adalah memberikan pengalaman yang membekas tidak mudah dilupakan dan rasanya sangat beruntung bahwa takdir membawaku ke tempat itu. 

Well, sekarang giliran saya ceritakan detilnya. Merencanakan perjalanan ini awal Oktober 2013. Rencananya saya dan seorang teman akan mengunjungi 3-4 negara tetangga. Malaysia, Thailand, melewati Kamboja, lalu ke Vietnam. Dengan mempertimbangkan dana dan waktu cuti, akhirnya kami membeli tiket Air Asia Bandung-Kuala Lumpur PP untuk keberangkatan 29 Desember 2013 dan kepulangan 6 Januari 2014. Dengan waktu hanya 8 hari, akhirnya kami mem-pending perjalanan ke Kamboja dan Vietnam untuk perjalanan selanjutnya. Hanya Malaysia dan Thailand untuk saat ini.

Cerita perjalanan yang saya lakukan pada tahun 2016 dapat dilihat di Solo-Travelling Kuala Lumpur, ,Krabi Town, Phi Phi Islands, Penang.

Tiba di Bandara Kuala Lumpur Pukul 21.30 waktu setempat. Setelah melewati imigrasi, ada seorang teman yang menjemput. Malam pertama perjalanan kami menginap di asrama kampus IIUM di daerah Gombak. Ini kali kedua saya mengunjungi Kuala Lumpur, tapi ini kali pertama mengunjungi kampus di Kuala Lumpur. Kami sampai di kampus tengah malam, dan kelaparan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di Kantin. Hanya dengan 2.5MYR saya sudah dapat nasi+telur+daging sapi. Harga mahasiswa.

<a href="url gambar"><img alt="kampus iium gombak kuala lumpur malaysia" src="urlgambar" title="kampus iium gombak kuala lumpur malaysia" />

Besok pagi nya dari kampus IIUM kami naik Bus menuju stasiun kereta api Gombak seharga 1MYR. Lalu dari stasiun Gombak naik LRT ke KL Sentral 1.6MYR kalo tidak salah. Rencananya kami akan keliling KL seharian lalu malamnya melanjutkan perjalanan menuju Hatyai memakai Kereta Api. Sesampainya di KL Sentral kami langsung menitipkan Ransel di Left Baggage yang letaknya dekat dengan tempat pembelian tiket kereta api antarbangsa dengan tarif 5MYR untuk ransel besar dan 3MYR untuk Ransel kecil. Kami memutuskan untuk membeli dahulu tiket ke Hatyai sebelum jalan-jalan di KL, namun ternyata tiketnya habis. Tidak aneh sih, karena memang saat itu sedang peak season. Adrenalin meningkat karena terjadi hal yang tidak direncanakan, namun entah kenapa itulah pertama kali saya merasa bersemangat dengan perjalanan ini. Rencananya kami akan menghabiskan 2hari di Hatyai sebelum lanjut ke Bangkok, namun karena tiket habis dan perjalanan ke utara harus tetap berlanjut, maka kami memutuskan untuk membeli tiket kereta api KL-Butterworth (34MYR) yang berupa tiket duduk yang akan berangkat sekitar pukul 16.00. Kami juga sekalian membeli tiket kereta api Butterworth-Bangkok untuk 2hari setelahnya (takut kehabisan) seharga 104MYR untuk Sleeper tiket yang Upper Berth (Yang lower berth lebih mahal 110 MYR).

<a href="url gambar"><img alt="travelling little india kuala lumpur malaysia" src="urlgambar" title="traveling little india kuala lumpur malaysia" />

 Membunuh waktu, kami mengunjungi Little India, tidak jauh dari KL Sentral, tinggal berjalan kaki dari tempat pemberhentian bus di daerah belakang KL Sentral. DIsana kami juga makan siang, dan membeli bekal untuk makan di kereta api (makanan di kereta mahal-mahal, dan belum tentu halal, jadi lebih baik membawa bekal). Lalu dari sana kami naik Monorail ke Bukit Bintang. Jalan kaki melewati toko-toko kemudian Jalan-jalan sebentar di Pavillion yang saat itu dekorasinya lumayan bagus, suasana natal dan tahun baru. Lalu dari sana melewati jembatan menuju KLCC untuk melihat Twin Tower dari dekat. Sebetulnya saya pernah kesana jadi tidak begitu bersemangat. Sangat artifisial, sedikit terintimidasi oleh tingginya menara kembar. Namun yang paling saya suka adalah taman dan danau di belakangnya.

<a href="url gambar"><img alt="travelling petronas twin tower kuala lumpur malaysia" src="urlgambar" title="traveling petronas twin towers kuala lumpur malaysia" />

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.00, sehingga kami langsung menuju LRT, yang letaknya di underground nya KLCC, dan membeli tiket menuju KL Sentral.

<a href="url gambar"><img alt="foto tiket kereta train kuala lumpur butterworth penang" src="urlgambar" title="foto tiket kereta kuala lumpur butterworth penang" />

Perjalanan dari KL ke Butterworth ditempuh selama 7 jam. Tempat duduk di kereta seperti di Bus, tidak ada yang berhadap-hadapan. Keretanya lumayan bersih, namuan AC nya dingiiiiiin sekali sehingga kami lebih banyak menghabiskan waktu di lorong yang menyambungkan antar gerbong, disana sedikit lebih hangat. Kami bertemu dengan Pak Cik yang juga tidak kuat dengan dinginnya AC, setelah ngobrol dan tahu bahwa kami menuju Bangkok, ia mencoba menasihati kami untuk tidak pergi ke Bangkok karena sedang ada konflik dan demonstran dimana-mana. Malah sempat ada bom. Tapi tiket sudah dibeli, dan kami memang ingin pergi ke Bangkok, jadi waktu itu kami hanya bisa berharap mudah-mudahan perjalanan ini aman dan lancar.

<a href="url gambar"><img alt="foto hostel little india heritage penang" src="urlgambar" title="foto hostel little india heritage penang" />

Tiba di stasiun Butterworth pukul 23.00 langsung menuju ferry untuk menyebrang ke pulau Penang. Naik Ferry seharga 1.2MYR ditempuh selama kurang lebih 30menit. Sesampainya disana kami mencari penginapan, agak suram karena tengah malam. Tetapi akhirnya kami menemukan penginapan di Lebuh Ah Quee yang terilhat tidak terlalu suram seharga 50MYR utk berdua permalam. Little India Heritage Villa.

<a href="url gambar"><img alt="foto kedai makan muslim food little india penang" src="urlgambar" title="foto kedai makan muslim food little india penang" />

Pagi-pagi sarapan di kedai depan hotel. Lalu setelah bertanya ke pelayan kedai dimana kami bisa mendapatkan bus untuk pergi ke Kek Lok Si temple, si pelayan dengan ekspresif menjelaskan kepada kami arahnya. Dengan membayar 2MYR kami berangkat naik bus Rapid Penang dari Little India ke Pasar Ayer Item. Turun dari bus, kami berjalan menuju bukit tempat kuil berada. Lihat-lihat kuil yang merupakan UNESCO World Heritage ini gratis, kecuali untuk melihat Tempat ibadah utama dan Pagoda bayar 2MYR yang sangat worth it, kami bisa naik sampai ke pagoda paling tinggi kalau mau (tapi Cuma sampai tingkat 5 atau 6) dan dapat view yang bagus sekali dari atas sana. Lalu kami menuju patung dewi Kwan Im yang besar sekali, kami naik trem ke atas 2,5MYR untuk sekali jalan. Turunnya kami berencana untuk jalan kaki. Viewnya bagus, namun cuaca sedang terik sehingga kami sulit sekali untuk bahkan membuka mata. Disarankan membawa kaca mata hitam jika bepergian.


<a href="url gambar"><img alt="foto patung dewi kwan im ayer itam kek lok si temple penang" src="urlgambar" title="foto patung dewi kwan im ayer itam kek lok si tenple penang" />

Pulang dari Kek Lok Si kami berencana mengksplor P. Penang dengan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan dekat penginapan, kemana pun kaki melangkah. Pertama, kami mengunjungi Masjid Kapitan Keling, dapat banyak brosur disana yang isinya kebanyakan tentang sejarah, tauhid, dan hal-hal lainnya tentang Islam yang dikupas secara cerdas, ditulis dalam Bahasa Inggris, sehinga dapat dibaca oleh siapapun. Kemudian kami berjalan sepanjang jalan Mesjid Kapitan Keling sampai ke St. George’s Church, lalu ke museum art gallery (hanya lewat) lalu jalan terus sampai Love Lane, disana kami bertemu seorang turis dari Houston, Texas, yang sangat ramah dan memberitahu kami banyak informasi tentang Bangkok. Tentang Khao San Road, tentang Bus 53 yang bisa kami dapatkan di pojok kiri setelah keluar sari stasiun, dan lain-lain. Setelah berpisah dengannya, kami menemukan view pantai dari jembatan penyeberangan. Lalu kami memutuskan untuk jalan ke pantai dan beristirahat sambil menikmati angin sepoi-sepoi disana.

<a href="url gambar"><img alt="traveling pantai penang malaysia" src="urlgambar" title="traveling pantai penang malaysia" />


Di perjalanan pulang ke penginapan, tidak sengaja kami melihat persiapan kosnser rakyat yang akan diselenggarakan malam harinya untuk menyambut tahun baru. Akan ada bazaar makanan juga sepertinya jika dilihat dari stand-stand yang sedang dibuat. Kami juga menemukan kedai yang enak dan murah bernama Agappa’s/Apagga’s di Lebuh King. Roti Canai dan Kari ditambah the tarik hanya seharga 2MYR. The tariknya enak banget.
<a href="url gambar"><img alt="traveling jalan little india penang malaysia" src="urlgambar" title="travelling jalan little india penang malaysia" />

<a href="url gambar"><img alt="traveling gang love lane georgetown penang malaysia" src="urlgambar" title="travelling gang love lane georgetown penang malaysia" />

Malamnya kami melihat konser yang unik banget. Mengingatkanku bahwa di kota Penang yang tidak begitu besar ini terdapat beragam budaya. Ada orang Melayu, India, dan Cina yang hidup berdampingan dengan harmonis. Orang-orangnya ramah dan rasanya siapapun kita, dari manapun asal kita, apapun bahasa kita, apapun warna kulit kita, kita akan diterima di tempat ini. Selain itu, meskipun sudah disediakan pasukan untuk membersihkan sampah sehabis acara, hampir semua orang berdisiplin untuk tidak membuang sampah sembarangan. Entah kenapa malam itu saya merasa enggan melanjutkan perjalanan dan ingin berada di kota ini lebih lama.
<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia minion" src="urlgambar" title="street art penang malaysia minion" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural sepeda" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural sepeda" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural ayunan" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural ayunan" />


<a href="url gambar"><img alt="street art hunting penang malaysia mural color blind" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural color blind" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural color composition" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural color composition" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural big cat" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural big cat" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural cats take a bath" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural cats take a bath" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural basket ball" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural basket ball mural" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural hidden minions" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural hidden minions" />

<a href="url gambar"><img alt="street art penang malaysia mural bruce lee" src="urlgambar" title="street art penang malaysia mural bruce lee" />

Esok paginya, saya berpisah dengan teman saya untuk mengeksplor kota ini sendirian. Misi saya adalah untuk menemukan setiap street art dan mural yang ada di kota ini. Hampir berhasil, sayangnya ada satu yang tidak saya temukan meskipun saya sudah berkeliling-keliling mencari. Dan waktu kami tinggal sebentar lagi sebelum kami harus menuju stasiun kereta untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok.
<a href="url gambar"><img alt="tandaas toilet ferry pulau pinang butterworth" src="urlgambar" title="tandas toilet ferry pulau pinang butterworth" />

Ferry dari P.Penang ke Butterworth ternyata gratis. Kami lalu menunggu kereta di stasiun, dimana selanjutnya kami bertemu 3Orang Thai, 2 perempuan, 1 laki-laki. Mereka ramah sekali dan sangat bersemangat mengajari kami bahasa thai yang mungkin akan kami butuhkan di Thailand nanti. Kereta berhenti di Stasiun Padang Besar. Kami diminta turun membawa barang-barang dan ada pengecekan Imigrasi.

<a href="url gambar"><img alt="kereta train sleeper class Penang Butterworth Malaysia Bangkok Thailand" src="urlgambar" title="kereta train sleeper class penang butterworth malaysia bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="kereta train sleeper class butterworth penang malaysia bangkok thailand" src="urlgambar" title="kereta train sleeper class butterworth penang malaysia bangkok thailand" />

Kereta Sleeper ini terlihat seperti kereta biasa di siang hari. Tempat duduk berhadap-hadapan. Keretanya bersih ada wastafel, dan toiletnya juga bersih. Penumpangnya dari berbagai bangsa. Kami sempat mengobrol dengan adik kakak thai, juga ada orang medan yang ramah dan selalu memberikan kami makanan, anak kecil dari jepang bernama Haiga, dan pegawai kereta aneh yang meskipun tidak bisa berkomunikasi dengan kami karana perbedaan bahasa, namun sepertinya ingin berteman dengan kami. Pada malam hari tempat duduk dirubah menjadi tempat tidur lower berth, dan tempat tidur upper dibuka. Saya mengerti sekarang kenapa tempat tidur lower lebih mahal, karena memang lebih luas, dan bisa melihat view keluar jendela di pagi hari. Sedangkan upper meskipun nyaman, tapi hanya bisa melihat langit langit, dan sedikit sempit untuk orang berbadan bongsor. Overall, kereta inilah yang paling nyaman. Perjalanan yang hampir 24 jam tidak terasa membosankan ataupun melelahkan.

<a href="url gambar"><img alt="stasiun kereta hualampong train station bangkok thailand" src="urlgambar" title="stasiun kereta hualampong train station bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="stasiun kereta hualampong train station bangkok thailand" src="urlgambar" title="stasiun kereta hualampong train station bangkok thailand" />

Tiba di Stasiun Hualampong, Bangkok, tengah hari. Berkaca pada pengalaman kehabisan tiket sebelumnya, kami langsung membeli tiket untuk 2 hari setelahnya Bangkok-Hatyai 339THB. Stasiun sedikit suram, mengingatkanku pada stasiun Jakarta Kota namun lebih lengkap. Ada Money Changer, mushola, bahkan toko buku didalamnya. Keluar dari stasiun langsung ke pojok kiri untuk cari bus 53. Disana kami bertemu dengan gadis remaja umur 18 tahunan asal Belanda yang dulu lama tinggal di Laos. Anaknya asik, komunikatif dan tulus sekali. Kami ngobrol banyak, dan saat berpisah dia memeluk kami dengan akrab. Kami berencana untuk mencari penginapan di daerah Khao San Road karena banyak budget hostels disana. Setelah turun dari bus 53 di Phra Atit kami jalan ke Rambuttri Road dan menemukan Guesthouse yang lumayan enak dan murah seharga 300THB untuk berdua.

<a href="url gambar"><img alt="traveling bangkok thailand by bus 53" src="urlgambar" title="traveling bangkok thailand by bus 53" />

<a href="url gambar"><img alt="traveling bus 53 bangkok thailand" src="urlgambar" title="bus 53 bangkok thailand traveling" />

Setelah menyimpan barang, kami mencari makan-yang ternyata susah sekali. Kami menyusuri rambutri road lalu ke Khao San Road, tapi tak ada satu pun tempat makan halal kecuali KFC yang harganya mahal banget. Namun setelah bertanya ke Ibu-ibu penjual Pancake Banana, ternyata ada kedai Halal di ujung jalan Rambuttri dekat Restoran Pizza. Malamnya setelah browsing kami juga menemukan satu tempat makan halal lebih dekat ke guest house. Namanya Roti Mataba, tempatnya di Ujung jalan Phra Atit. Makanannya beragam dan enak-enak.

<a href="url gambar"><img alt="restoran makan halal roti mataba bangkok thailand" src="urlgambar" title="restoran makan halal roti mataba bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="kedai makan halal sebelah pizza Khao San road Bangkok Thailand" src="urlgambar" title="kedai makan halal sebelah pizza khao san road Bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="menu restoran makan halal roti mataba bangkok thailand" src="urlgambar" title="menu restoran makan halal roti mataba bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="halte bus stop bangkok thailand" src="urlgambar" title="halte bus stop bangkok thailand" />

Setelah makan kami mampir ke toko buku di Rambuttri Road. Disana pemiliknya membeli buku-buku dari backpacker dari berbagai negara dan dijual kembali dengan harga murah, sekitar 1/3 sampai 1/5 harga aslinya.
<a href="url gambar"><img alt="rambuttri road bookstore bangkok thailand" src="urlgambar" title="toko buku rambuttri road bookstore bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="rambuttri road bookstore bangkok thailand" src="urlgambar" title="toko buku rambuttri road bangkok thailand" />

Esoknya kami mengunjungi Grand Palace, kami bisa masuk gerbangnya dan foto-foto, namun untuk lebih masuk lagi tiketnya 500THB, sehingga kami cukup puas dengan melihat luarnya. Kami sempat melihat view Wat Arun dari jauh, namun karena belum sarapan kami memutuskan untuk membeli makan di Universitas Ramkamhaeng (dapat info hari sebelumnya bahwa disana ada tempat makan halal dan ada mesjid). Dari Grand Palace kami naik bus 53, ganti bus 53 yang lain (ganti bus tidak bayar lagi hanya bayar 6.5THB/trip) sampai di Hualampong, kami naik Bus 113 seharga 8THB. Ternyata tempatnya lumayan jauh, sekitar satu jam di bus. Untuk mencari suatu tempat sangat sulit, karena kebanyakan orang Thai tidak bisa Bahasa Inggris. Akhirnya kami menemukan restoran halal di Jalan Ramkamhaeng.
<a href="url gambar"><img alt="traveling grand palace bangkok thailand" src="urlgambar" title="travelling grand palace bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="travelling wat arun bangkok thailand" src="urlgambar" title="traveling wat arun bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="penanda jalan ramkhamhaeng university bangkok thailand" src="urlgambar" title="penanda jalan ramkhamhaeng university bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="muslim student club ramkhamhaeng university bangkok thailand" src="urlgambar" title="muslim student club ramkhamhaeng university bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="ukhti muslim student club ramkhamhaeng university bangkok thailand" src="urlgambar" title="muslim student club ramkhamhaeng university bangkok thailand" />

Mencari Universitas Ramkamhaeng ternyata sulit, orang-orang tidak familiar dengan kata university, padahal universitas tersebut ada di seberang jalan saja. Setelah menemukan kampusnya pun kami harus bertanya lagi dimana kami bisa menemukan mesjid atau setidaknya tempat sholat karena kampusnya luas sekali. Dengan bahasa tarzan kami bertanya ke beberapa orang yang tidak mengerti apa yang kami tanyakan. Akhirnya kami masuk ke kantor nya dan menemukan seorang ibu-ibu dekat lift yang dengan baik mengantar kami ke orang-orang kantor yang ternyata juga tidak tahu tempatnya namun ingin menolong, lalu kami diantar dan ditunjukan untuk bertanya ke informasi. Di gedung yang ditunjukkan tersebut ternyata hanya ada 3 orang. 2 orang sekuriti dan satu orang laki-laki yang sedang menelepon. Kedua sekuriti itu tidak bisa berbahasa inggris lalu minta tolong mas-mas yang sedang menelepon untuk menjelaskan pada kami. Akhirnya dengan baik hati, karena takut kami tersesat, ia mengantar kami ke mushola. Tidak tanggung-tanggung, ia mengantar kami berjalan mungkin sekitar 1km. Orangnya ramah, tidak bisa B. Inggris, namun ia mencoba menolong. Kami sampai terharu dan ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya namun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.

Setelah sholat kami berkenalan dengan Muslim Student Club nya Ramkamhaeng university, dan bahkan ketuanya menawarkan diri untuk mengantar kami keliling Bangkok. Alhamdulillaah, kami bertemu dengan banyak orang baik.

Dari kampus kami menuju MBK dan Siam Square untuk melihat patung lilin Presiden Soekarno. Kami menggunakan Boat dengan harga 16THB per orang. Transportasi sungai ini lucu. Rasanya seperti di Venice namun dengan ada sedikit bau got. Tapi setidaknya ini lebih baik dari sungai di Jakarta. Sesampai di Madame Tussaud di Siam Square kami tidak jadi masuk melihat patung lilin Soekarno karena tiket masuknya lumayan mahal 700THB, kami hanya sampai depannya saja. Disana ada patung lilinnya Kate Winslet. Kami akhirnya menuju Hualampong, kami diajak untuk makan di warung nasi halal dekat stasiun, setelah itu pulang ke guest house di Rambuttri.

<a href="url gambar"><img alt="traveling river boat bangkok thailand" src="urlgambar" title="travelling river boat bangkok thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="patung lilin kate winslet madame tussaud bangkok thailand" src="urlgambar" title="patung lilin kate winslet madame tussaud bangkok thailand" />

Jalan pulang sedikit terganggu, karena ada beberapa demonstrasi, beberapa jalan ditutup, dan bus harus memutar, macet dimana-mana. Karena kecapean malamnya kami hanya mengunjungi toko buku yang kemarin lagi. Kali ini kami diajak ngobrol panjang lebar oleh pemiliknya. Pemiliknya pun ramah, dan bahkan menceritakan kepada kami tentang kehidupan ekonomi dan politik di Thailand serta motivasinya membuat toko buku tersebut.

Esok paginya kami check out dan sebelum melanjutkan perjalanan ke Hatyai kami berencana ke Catuchak Weekend Market terlebih dahulu. Kami menitipkan Ransel di Stasiun Hualampong (70THB) lalu naik MRT Underground yang bersih dan bagus banget (40THB). Sampai di Catuchak kami beli oleh-oleh, kaos-kaos untuk anak-anak yang bahannya bagus sekitar 80THB/kaos, Gantungan kunci lumayan mahal disini 80-10THB / 6biji. Saya beli tas rajutan ukuran sedang seharga 200THB, dan lain-lain. Di Catuchak ini ada restoran halal namanya Saman Islam, tapi harganya relatif mahal.
<a href="url gambar"><img alt="travelling mrt undergroung bangkok catuchak market thailand" src="urlgambar" title="travelling mrt underground bangkok chatuchak market thailand" />

<a href="url gambar"><img alt="catuchak weekend market bangkok thailand" src="urlgambar" title="catuchak weekend market bangkok thailand" />

Kembali ke Hualampong tepat pada waktunya. Perjalanan dari Bangkok ke Hatyai pantas murah karena ternyata naik kereta rakyat, seperti kereta ekonominya kita. Banyak pedagang lalu lalang. Tempat duduk penuh sesak. Tidak ada AC (thank God, ini yang bikin saya bisa tidur nyenyak meskipun tempatnya bising dan kursinya keras banget). Sampai di Hatyai karena kami hanya punya waktu sehari kami tidak perlu mencari penginapan, dengan kata lain tidak ada tempat untuk mandi. Untungnya di Stasiun Hatyai kita bisa mandi dengan membayar 10THB saja. Toilet dan kamar mandinya lumayan bersih. Kami menitipkan ransel lagi di stasiun dengan 50THB, lalu jalan-jalan ke Wat Hatyai Nai. Di Hatyai ini tidak susah cari makanan halal, namun kota ini sepi dan suram sekali. Untunglah kami disini hanya sehari, jika mengikuti rencana dan di kota ini 2 hari, mungkin kami akan bosan.

<a href="url gambar"><img alt="kereta super ekonomi bangkok hat yai" src="urlgambar" title="kereta super ekonomi bangkok hatyai" />

<a href="url gambar"><img alt="travelling kota hatyai yang sepi" src="urlgambar" title="travelling kota hat yai thailand yang sepi" />

<a href="url gambar"><img alt="traveling sleeping budha wat hatyai nai thailand" src="urlgambar" title="traveling sleeping budha wat hat yai nai thailand" />

Saatnya kembali pulang ke KL. Kami membeli tiket Hatyai-KL dan memastikan agar tidak terlalu ekonomi banget. Kami dapat tiket duduk 550THB. Lumayan nyaman keretanya. Kereta berhenti lagi di Padang Besar untuk Imigrasi. Kali ini jauh lebih ketat. Tas penumpang sampai diacak-acak isinya.
<a href="url gambar"><img alt="traveling dataran merdeka kuala lumpur malaysia" src="urlgambar" title="traveling dataran merdeka kuala lumpur malaysia" />

<a href="url gambar"><img alt="traveling dataran merdeka kuala lumpur malaysia" src="urlgambar" title="travelling dataran merdeka kuala lumpur malaysia" />

Sampai di KLSentral titip tas lagi di Left Baggage. Lalu naik LRT menuju Mesjid Jamek, Mesjid India, Dataran Merdeka, dan Petaling Street alias Chinatown.  Dataran merdeka tempatnya asik. Banyak bangunan-bangunan yang bagus, ada perpustakaan gratis, ada museum gratis yang keren banget. Kita boleh ambil buku-buku tentang tourism, free. Dari Chinatown, kami menuju stasiun monorail Maharajalela untuk kembali ke KL Sentral. Dan menuju bandara LCCT dengan Aerobus seharga 10MYR. (Dari LCCT-KL Sentral harga 8MYR, kalau PP 14MYR)

Dan satu perjalanan berakhirr… Ada sedikit insiden di Pemeriksaan Barang di Airport LCCT, teman saya yang membeli oleh-oleh 6 botol lotion, lotionnya disita. Sebetulnya kami tahu tidak boleh membawa lebih dari 100ml cairan ke kabin, namun karena kami pikir akan lewat pemeriksaan, akhirnyaa… yaahh, ini pelajaran untuk trip-trip berikutnya agar lebih prepared.

Beberapa tahun setelah perjalanan ini yaitu pada Mei 2016, saya melakukan solo-travelling napak tilas dengan tambahan beberapa tempat dan kota yang belum dikunjungi sebelumnya seperti Phi-phi Islands, Krabi Town. Perjalanan ini tidak kalah seru dengan segala halangan, rintangan, kejutan, dan biaya yang ternyata bisa ditekan seminimal mungkin. Siapa bilang travelling ke luar negeri itu mahal. Temen-temen dapat membaca kisahnya di Solo-Travelling Kuala Lumpur, Krabi Town, Phi Phi Islands, Penang.

Versi lain dari cerita ini, dituliskan juga oleh teman seperjalanan saya di : http://bogohpisang.blogspot.com

14 komentar:

  1. informatif banget, melengkapi tulisan-tulisanku sebelumnya hahahahaha :D jadi keinget lagi dengan tentang harga2 disana...
    saya suka bagian awal, tentang takdir dan bagian 'menjalani dan mengenang'... kalo saya senang menjalani dan mengenangnya. seperti hanya menekan tombol 'kenangan', dan rekaman kejadian pun muncul,,, seolah-olah menjalani setiap kejutan dan unpredictable moment yang terjadi dalam perjalanan itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hari ini saya ingin mengunkapkan tentang perjalanan hidup saya,karna masalah ekonomi saya selalu dililit hutang bahkan perusahaan yang dulunya saya pernah bagun kini semuanya akan disitah oleh pihak bank,saya sudah berusaha kesana kemari untuk mencari uang agar perusahaan saya tidak jadi disitah oleh pihak bank dan akhirnya saya nekat untuk mendatangi paranormal yang terkenal bahkan saya pernah mengikuti penggandaan uang dimaskanjeng dan itupun juga tidak ada hasil yang memuaskan dan saya hampir putus asa,,akhirnya ketidak segajaan saya mendengar cerita orang orang bahwa ada paranormal yang terkenal bisa mengeluarkan uang ghaib atau sejenisnya pesugihan putih yang namanya Mbah Rawa Gumpala,,,akhirnya saya mencoba menhubungi beliau dan alhamdulillah dengan senan hati beliau mau membantu saya untuk mengeluarkan pesugihan uang ghaibnya sebesar 10 M saya sangat bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala berkat bantuannya semua masalah saya bisa teratasi dan semua hutang2 saya juga sudah pada lunas semua,,bagi anda yang ingin seperti saya dan ingin dibabtu sama Mbah silahkan hubungi 085 316 106 111 saya sengaja menulis pesan ini dan mempostin di semua tempat agar anda semua tau kalau ada paranormal yang bisah dipercaya dan bisa diandalkan,bagi teman teman yang menemukan situs ini tolong disebar luaskan agar orang orang juga bisa tau klau ada dukun sakti yg bisa membantuh mengatasi semua masalah anda1.untuk lebih lengkapnya buka saja blok Mbah karna didalam bloknya semuanya sudah dijelaskan PESUGIHAN DANA GHAIB TANPA TUMBAL

      Hapus
  2. tiba-tiba teringat langit biru nya dataran merdeka...

    BalasHapus
  3. memang ada ya kak kereta dari penang langsung bangkok ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada. Keretanya enak banget. Karena perjalanan lebih dari 20 jam, disediakan tempat tidur dan selimut.

      Hapus
  4. kak km tidur di kampus kah pada hari pertama wkt di KL ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Ada temen yang tinggal di asrama IIUM dan saya ikut nginap semalam dan makan di kantinnya

      Hapus
  5. Kak,berapa Ɣªª tiket kereta dari penang ke bangkok ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harganya sekitar 400rb-an kalo dirupiahin.. Perjalanan lebih dari 20 Jam

      Hapus
  6. kak bisa beli online ga tiket kereta nya ??

    BalasHapus
  7. Ada.. Pembayarannya pakai kartu Kredit kalo ga salah.. Sy belum pernah beli online sih.. Informasi lengkap ttg transportasi bisa dilihat di seat61.com

    BalasHapus
  8. Kalo dari penang ke phuket bisa ka?biayanya brp yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Opsi pertama : pesawat Penang-Pukhet
      Minus: Harga relatif mahal

      Opsi ke 2: Bus Penang-Hatyai (-+ 35RM) lanjut Bus Hatyai-Pukhet (-+ 300 Baht)
      Minus : lumayan lama di perjalanan (10-11 Jam)

      Note: Tidak ada stasiun kereta di Pukhet

      Hapus
  9. Seru juga perjalanannya ya, Untung ketemunya orang orang baik ya. Nitip tas di KL sentral itu hitungannya perjam atau perhari ya? Salam kenal ya, Oia blognya sudah tak follow ya

    BalasHapus